
13 Juli 2025
Jakarta — Sebuah film dokumenter Indonesia berjudul “Rimba Terakhir” menyita perhatian dunia setelah diputar di Tokyo Green Film Festival 2025 dan mendapatkan Standing Ovation. Film ini menggambarkan secara menyayat hati kondisi hutan tropis Kalimantan yang terus tergerus akibat deforestasi dan tambang ilegal.
Disutradarai oleh Rani Paramita, dokumenter berdurasi 85 menit ini mengikuti kehidupan suku Dayak yang bergantung pada hutan dan perjuangan para aktivis lingkungan dalam menjaga kawasan hutan hujan tropis terakhir di Asia Tenggara.
Suara dari Jantung Borneo
“Rimba Terakhir” menyajikan visual sinematik yang kuat: kabut pagi menyelimuti pepohonan raksasa, suara fauna endemik yang mulai langka, serta bentrokan antara warga adat dan korporasi tambang. Film ini menggunakan pendekatan naratif personal dan investigatif, menjadikannya sangat menyentuh dan informatif.
“Saya menangis saat menyaksikan bagaimana tanah leluhur kami dihancurkan,” kata Toni, pemuda Dayak yang menjadi salah satu tokoh utama dalam film tersebut.
Viral di Media Sosial dan Streaming
Setelah dirilis terbatas di beberapa bioskop independen dan platform streaming Indonesia, film ini langsung menjadi viral. Tagar #RimbaTerakhir, #SaveKalimantan, dan #FilmHijauIndonesia ramai di media sosial, didorong oleh banyak selebriti dan aktivis yang turut mengkampanyekan pentingnya pelestarian hutan.
Dampak Langsung pada Kesadaran Publik
LSM lingkungan seperti WALHI dan Greenpeace menyatakan bahwa film ini berhasil meningkatkan donasi dan relawan baru yang ingin terlibat dalam program reforestasi dan advokasi hukum perlindungan hutan.
Pemerintah pun disebut akan meninjau ulang izin konsesi di beberapa wilayah setelah film ini menarik perhatian publik.
Kesimpulan
“Rimba Terakhir” bukan sekadar dokumenter, tapi alarm keras bagi seluruh masyarakat Indonesia bahwa hutan Kalimantan sedang berada di titik kritis. Lewat karya seni yang kuat, isu lingkungan bisa menjangkau lebih luas dan menggugah aksi nyata.