Sorong, 4 September 2026 – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menetapkan Papua Barat Daya (PBD) bersama Papua Barat sebagai lokus penguatan layanan kesehatan ibu dan anak melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan sekaligus mendorong transformasi sistem pelayanan kesehatan di wilayah Papua. Direktur Kesehatan, Gizi, dan Masyarakat Bappenas Diah Lenggogeni mengatakan program pendampingan diharapkan menghasilkan rencana aksi yang dapat diterapkan hingga tingkat provinsi serta kabupaten dan kota. Pemerintah ingin kebutuhan masing-masing wilayah menjadi dasar dalam menentukan bentuk intervensi sehingga kebijakan tidak diterapkan dengan pola yang sama tanpa mempertimbangkan kondisi daerah. Papua memiliki tantangan geografis, ketersediaan tenaga kesehatan, kemampuan fiskal, dan akses pelayanan yang berbeda dibandingkan banyak wilayah lainnya. Karena itu, penguatan kesehatan ibu dan anak membutuhkan pendekatan yang lebih afirmatif sekaligus terintegrasi.
Pendampingan tersebut melibatkan Bappenas bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan. Kolaborasi lintas sektor dibutuhkan karena persoalan kesehatan ibu dan anak tidak hanya berkaitan dengan pelayanan ketika seseorang datang ke fasilitas kesehatan. Ketersediaan anggaran, distribusi tenaga medis, transportasi, sistem rujukan, infrastruktur, hingga kemampuan pemerintah daerah menyusun program turut menentukan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat. Melalui pendampingan tersebut, setiap pihak diharapkan dapat memetakan persoalan sekaligus menentukan intervensi yang memiliki dampak paling besar. Pemerintah pusat juga ingin memastikan perencanaan kesehatan daerah memiliki hubungan yang jelas dengan sasaran pembangunan nasional. Hasil dari proses tersebut nantinya dapat menjadi model yang dikembangkan di wilayah lain dengan tetap melakukan penyesuaian berdasarkan karakter daerah masing-masing.
Bappenas telah menyiapkan kerangka kerja nasional penurunan kematian ibu dan anak yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun perencanaan, penganggaran, serta menentukan prioritas intervensi. Kerangka tersebut diperlukan agar program yang dilaksanakan berbagai instansi memiliki arah yang sama dan dapat diukur berdasarkan hasil yang ingin dicapai. Pemerintah daerah dapat menggunakan pedoman tersebut untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang paling mendesak sekaligus menentukan kebutuhan sumber daya. Data mengenai kematian ibu, kematian bayi, akses pelayanan, kondisi fasilitas kesehatan, dan ketersediaan tenaga menjadi bagian penting dalam proses perencanaan. Pendekatan berbasis data memungkinkan anggaran yang terbatas diarahkan kepada kegiatan dengan tingkat urgensi lebih tinggi. Bappenas juga mendorong agar perencanaan tidak hanya berorientasi pada jumlah kegiatan, tetapi melihat perubahan kualitas pelayanan dan kondisi kesehatan masyarakat.
Penurunan kematian ibu dan anak menjadi salah satu indikator penting dalam pembangunan nasional dan telah mendapatkan perhatian dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045. Bappenas mendorong indikator tersebut diterjemahkan secara konsisten ke dalam dokumen perencanaan pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota. Keselarasan diperlukan agar target nasional tidak berjalan terpisah dari kebijakan serta penganggaran di daerah. Pemerintah daerah memiliki peran besar karena pelayanan kesehatan dasar dan berbagai program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat berlangsung pada tingkat lokal. Ketika indikator telah masuk ke dalam dokumen perencanaan, pemerintah memiliki dasar lebih kuat untuk menentukan program, anggaran, dan target kinerja. Evaluasi kemudian dapat dilakukan secara berkala untuk mengetahui apakah kebijakan yang dilaksanakan benar-benar menghasilkan perbaikan.
Salah satu tantangan yang mendapat perhatian adalah kemampuan fiskal pemerintah daerah dalam membiayai berbagai kebutuhan kesehatan. Papua Barat Daya sebagai provinsi yang relatif baru masih harus membangun dan memperkuat berbagai layanan publik secara bersamaan sehingga penentuan prioritas menjadi sangat penting. Bappenas menilai keterbatasan anggaran dapat dihadapi dengan memilih intervensi yang paling mendesak sekaligus memanfaatkan dukungan mitra pembangunan. Alternatif pembiayaan dan insentif juga dapat dikembangkan sepanjang memiliki mekanisme yang jelas dan mendukung kebutuhan pelayanan masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan daerah tidak harus menunggu seluruh kebutuhan anggaran tersedia untuk mulai melakukan perbaikan. Namun setiap dukungan tetap perlu masuk ke dalam kerangka perencanaan yang terintegrasi agar tidak terjadi tumpang tindih program.
Kondisi geografis Papua Barat Daya memberikan tantangan tersendiri karena pelayanan kesehatan harus menjangkau masyarakat yang tersebar di wilayah daratan maupun kepulauan. Jarak menuju fasilitas kesehatan dapat menjadi persoalan ketika ibu hamil membutuhkan pemeriksaan rutin maupun pelayanan persalinan dan kegawatdaruratan. Dalam kondisi tertentu, keterlambatan mencapai fasilitas rujukan dapat meningkatkan risiko terhadap ibu maupun bayi. Karena itu, perencanaan pelayanan perlu mempertimbangkan jaringan fasilitas, sarana transportasi, sistem komunikasi, dan kemampuan melakukan rujukan secara cepat. Puskesmas serta fasilitas pelayanan dasar memiliki posisi penting sebagai titik pertama yang berhubungan dengan masyarakat. Penguatan fasilitas tersebut perlu berjalan bersama peningkatan kemampuan rumah sakit yang menjadi tujuan rujukan apabila pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Ketersediaan tenaga kesehatan juga menjadi bagian penting dalam penyusunan model pelayanan yang lebih sesuai dengan kondisi Papua. Infrastruktur yang memadai belum dapat memberikan manfaat maksimal apabila fasilitas tidak memiliki dokter, bidan, perawat, tenaga gizi, dan tenaga pendukung dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Distribusi tenaga menjadi tantangan karena daerah dengan akses lebih sulit tidak selalu mudah mendapatkan maupun mempertahankan tenaga kesehatan dalam jangka panjang. Pemerintah karena itu perlu mempertimbangkan kebijakan penempatan, insentif, peningkatan kompetensi, tempat tinggal, hingga dukungan keselamatan dan kenyamanan tenaga yang bekerja di wilayah terpencil. Penguatan kemampuan tenaga lokal juga dapat menjadi strategi jangka panjang untuk meningkatkan keberlanjutan pelayanan. Model yang dikembangkan harus memperhitungkan kebutuhan tersebut sehingga investasi pada fasilitas berjalan seimbang dengan pengembangan sumber daya manusia.
Pelayanan kesehatan ibu dan anak juga membutuhkan kesinambungan sejak sebelum kehamilan hingga masa pertumbuhan anak. Pemeriksaan kehamilan secara berkala dapat membantu mendeteksi faktor risiko lebih awal sehingga penanganan dapat diberikan sebelum muncul komplikasi yang lebih berat. Pelayanan persalinan harus didukung tenaga kompeten serta sistem rujukan yang mampu merespons keadaan darurat. Setelah kelahiran, pemantauan bayi, imunisasi, pemenuhan gizi, dan pemeriksaan pertumbuhan menjadi bagian dari rangkaian pelayanan yang tidak dapat dipisahkan. Edukasi kepada keluarga turut dibutuhkan agar masyarakat memahami tanda bahaya dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis. Pendekatan yang menyeluruh akan memberikan peluang lebih besar untuk menurunkan risiko kematian sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Dalam proses pendampingan, pemerintah juga akan melakukan pemetaan intervensi, analisis situasi dan sumber daya, serta integrasi antara perencanaan dan penganggaran. Tahapan tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi aktual sebelum menentukan program yang akan dilaksanakan. Pemerintah dapat melihat fasilitas yang membutuhkan peningkatan, wilayah dengan akses pelayanan rendah, kebutuhan tenaga kesehatan, serta persoalan rujukan yang masih menjadi hambatan. Hasil pemetaan kemudian dapat digunakan untuk menentukan pembagian tanggung jawab antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota, serta mitra pembangunan. Mekanisme tersebut diharapkan membuat penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien karena setiap pihak mengetahui bagian yang perlu ditangani. Pemantauan secara berkala juga diperlukan untuk memastikan program yang telah direncanakan benar-benar dilaksanakan dan memberikan hasil.
Bappenas mengharapkan Papua Barat Daya dan Papua Barat pada akhirnya mampu menghasilkan grand design perbaikan model layanan kesehatan yang bersifat afirmatif dan tematik. Rancangan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi panduan operasional dalam memperbaiki pelayanan ibu dan anak berdasarkan karakter wilayah Papua. Apabila menghasilkan perubahan yang terukur, pendekatan tersebut dapat direplikasi di daerah lain yang menghadapi tantangan serupa dengan penyesuaian berdasarkan kondisi lokal. Penguatan layanan juga membutuhkan komitmen jangka panjang karena penurunan kematian ibu dan anak tidak dapat dicapai hanya melalui satu program atau satu periode anggaran. Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan mitra pembangunan menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan intervensi. Dengan menjadikan Papua Barat Daya sebagai salah satu lokus penguatan, pemerintah berharap transformasi kesehatan dapat menjangkau wilayah yang memiliki tantangan akses sekaligus menghasilkan pelayanan ibu dan anak yang semakin aman, merata, dan berkualitas.






