Pulau Buru, terletak di sebelah barat Pulau Seram dan termasuk wilayah Provinsi Maluku, adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia yang menyimpan kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang dalam. Meskipun sempat dikenal karena kisah kelam di masa Orde Baru, Buru kini bangkit menjadi destinasi ekowisata, pertanian organik, dan penelusuran sejarah yang menarik bagi para pelancong dan peneliti.
Lanskap Alam yang Asri dan Beragam
Pulau Buru memiliki topografi yang beragam—mulai dari hutan hujan tropis, pegunungan, sungai deras, hingga danau-danau besar. Salah satu daya tarik utama adalah:
-
Danau Rana
Danau ini adalah danau alami terbesar di Maluku, berada di tengah-tengah pulau dan dikelilingi oleh hutan lebat. Danau Rana menjadi pusat kehidupan bagi masyarakat adat dan dipercaya sebagai tempat keramat dalam mitologi setempat. Pemandangan matahari terbit di atas permukaan danau yang tenang menciptakan suasana magis yang jarang ditemukan di tempat lain. -
Gunung Kapalatmada
Gunung tertinggi di Pulau Buru ini adalah destinasi trekking menantang bagi pecinta alam. Jalurnya melewati hutan perawan dan desa-desa kecil, menyajikan panorama spektakuler dari puncaknya. -
Pantai Jikumerasa
Salah satu pantai terindah di Buru dengan pasir putih dan laut yang jernih, cocok untuk snorkeling, berenang, atau sekadar bersantai.
Sejarah dan Warisan Sosial
Pulau Buru menjadi terkenal secara nasional karena dijadikan lokasi pembuangan tahanan politik (tapol) pada masa Orde Baru, khususnya pasca peristiwa 1965. Salah satu tokoh terkenal yang pernah diasingkan ke sini adalah Pramoedya Ananta Toer, penulis legendaris Indonesia. Di sinilah ia menulis karya-karya besar seperti Bumi Manusia, meski dengan segala keterbatasan.
Saat ini, jejak sejarah tersebut masih bisa ditelusuri melalui situs kamp-kamp tahanan, cerita warga, serta monumen kecil di Waeapo yang menjadi simbol peringatan atas tragedi kemanusiaan.
Kehidupan dan Kearifan Lokal
Masyarakat Buru terbagi ke dalam berbagai suku dan marga, salah satunya adalah Suku Rana, yang terkenal menjaga nilai-nilai adat dan hubungan harmonis dengan alam. Mereka hidup dari bercocok tanam, memelihara ternak, dan memanen hasil hutan, seperti damar, rotan, dan rempah-rempah.
Sistem pertanian tradisional organik di Buru juga mulai menarik perhatian nasional dan internasional. Beberapa desa telah menerapkan metode pertanian berkelanjutan yang melibatkan rotasi lahan dan penggunaan pupuk alami.
Kuliner khas Buru antara lain:
-
Papeda ikan kuah kuning
-
Sagu bakar
-
Ikan bakar rempah dan sayur daun ubi khas kampung
Akses dan Akomodasi
Pulau Buru dapat diakses dengan penerbangan domestik dari Ambon ke Bandara Namrole atau melalui pelabuhan laut di Namlea, ibu kota Kabupaten Buru. Transportasi lokal mencakup angkutan desa, motor sewaan, dan ojek.
Akomodasi di Pulau Buru masih sederhana, namun sudah tersedia penginapan, losmen, dan homestay di beberapa kota dan desa wisata. Wisatawan disarankan untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat lokal, karena keramahan dan kearifan warga menjadi salah satu daya tarik utama pulau ini.
Potensi Wisata dan Penelitian
Pulau Buru adalah destinasi yang sangat cocok untuk:
-
Ekowisata dan birdwatching, karena memiliki ekosistem hutan yang masih alami.
-
Wisata sejarah dan budaya, menelusuri jejak masa lalu dan mengenal kehidupan adat.
-
Agrowisata organik, terutama di wilayah Waeapo dan sekitarnya.
-
Petualangan, seperti mendaki gunung, susur sungai, dan ekspedisi ke desa-desa terpencil.
Penutup
Pulau Buru adalah tempat yang menyatukan alam liar, sejarah penting, dan kehidupan tradisional yang autentik. Di sinilah pengunjung bisa menemukan kedamaian, refleksi sejarah, dan hubungan mendalam dengan alam serta masyarakat yang menjaga warisan leluhur dengan bijaksana.
Bagi Anda yang mencari pengalaman perjalanan yang bermakna dan berbeda dari destinasi wisata populer, Pulau Buru menawarkan ketenangan, keaslian, dan pelajaran kehidupan yang berharga.