
11 Juli 2025
Seiring meningkatnya kesadaran akan privasi dan kenyamanan pascapandemi, tren wisata privat atau personalized travel kian diminati wisatawan Indonesia sepanjang tahun 2025. Data dari Asosiasi Travel Indonesia (ASITA) menunjukkan peningkatan sebesar 38% pemesanan paket privat dibandingkan tahun sebelumnya.
Wisatawan kini tak hanya mencari destinasi populer, tetapi juga pengalaman eksklusif, akses terbatas, dan layanan yang disesuaikan secara personal.
Apa Itu Wisata Privat?
Wisata privat merujuk pada perjalanan yang dilakukan secara terbatas — bisa hanya dengan keluarga inti, sahabat, pasangan, atau bahkan solo travel — dengan rute, waktu, dan aktivitas yang dirancang khusus sesuai permintaan wisatawan.
Beberapa bentuk wisata privat yang populer di Indonesia:
-
Private villa staycation di Bali, Lombok, dan Labuan Bajo
-
Glamping di tengah hutan atau pegunungan, seperti di Ciwidey, Sentul, dan Bromo
-
Private sailing trip ke Raja Ampat dan Kepulauan Seribu
-
Tour budaya tertutup di Ubud, Yogyakarta, dan Toraja
Mengapa Jadi Favorit?
Menurut pakar perjalanan dari Indonesia Travel Institute, faktor pendorongnya antara lain:
-
Privasi dan kenyamanan tinggi
-
Fleksibilitas rute dan jadwal
-
Minim kontak dengan wisatawan lain
-
Cocok untuk generasi Z dan milenial yang menyukai personalisasi dan unggahan media sosial eksklusif
Selain itu, kemajuan teknologi mempermudah pemesanan layanan eksklusif melalui platform seperti Traveloka Xperience Private, Tiket.com Private Escape, dan Airbnb Luxe.
Dampak bagi Pelaku Wisata
Operator lokal mulai beradaptasi dengan menyediakan layanan:
-
Guide pribadi bersertifikasi
-
Transportasi eksklusif dan kendaraan premium
-
Paket travel eco-luxury berbasis sustainability
-
Fasilitas tambahan seperti drone service dan fotografer profesional
Banyak villa dan homestay kini bekerja sama dengan chef pribadi, terapis spa keliling, hingga perancang acara untuk pengalaman intimate.
Tantangan & Etika Lingkungan
Meski menjanjikan, wisata privat juga menghadirkan tantangan:
-
Harga tinggi menjadi kendala bagi wisatawan umum
-
Ketimpangan distribusi wisatawan dapat terjadi jika hanya destinasi eksklusif yang berkembang
-
Risiko degradasi alam akibat eksplorasi ke area yang terlalu sensitif secara ekologis
Pemerintah mulai mendorong operator untuk menerapkan standar pariwisata berkelanjutan berbasis CHSE+ (Clean, Health, Safety, Environment & Inclusivity).
Kesimpulan
Wisata privat bukan sekadar tren sesaat, tetapi cerminan perubahan paradigma wisatawan modern: dari sekadar “berlibur”, menjadi pengalaman hidup yang autentik dan nyaman. Indonesia, dengan kekayaan alam dan budaya yang luas, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat wisata privat terbaik di Asia.