Jakarta, 31 Juli 2026 – Polwan ahli forensik Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti mendapat penugasan baru sebagai Kepala Biro Kedokteran Kepolisian atau Karodokpol Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri. Penunjukan tersebut menempatkan Hastry pada posisi strategis dalam bidang kedokteran kepolisian yang berperan mendukung proses penyelidikan, penyidikan, identifikasi, hingga penanganan berbagai peristiwa yang membutuhkan keahlian medis. Pengalaman panjangnya dalam dunia forensik menjadi modal penting untuk menjalankan tanggung jawab baru tersebut. Hastry selama ini dikenal sebagai salah satu dokter forensik Polri yang terlibat dalam penanganan berbagai kasus besar. Jabatan barunya sekaligus memperkuat peran polwan dalam posisi kepemimpinan di lingkungan kepolisian.
Brigjen Hastry bukan nama baru dalam bidang kedokteran forensik Indonesia. Kariernya banyak bersentuhan dengan pemeriksaan medis untuk membantu aparat memperoleh informasi ilmiah dalam pengungkapan perkara. Kedokteran forensik memiliki peran penting karena kondisi korban, temuan medis, dan berbagai bukti biologis dapat memberikan petunjuk mengenai suatu peristiwa. Hasil pemeriksaan kemudian menjadi bagian yang dapat digunakan penyidik untuk membangun kronologi berdasarkan bukti. Ketelitian menjadi sangat penting karena temuan medis dapat memiliki pengaruh besar dalam proses hukum.
Dalam perjalanan kariernya, Hastry dikenal pernah terlibat dalam berbagai operasi identifikasi korban bencana maupun penanganan perkara yang menyita perhatian publik. Pengalaman menghadapi kondisi lapangan yang kompleks membuat kemampuan dokter forensik tidak hanya bergantung pada pengetahuan medis. Mereka juga membutuhkan kemampuan koordinasi dengan penyidik, laboratorium, rumah sakit, serta berbagai instansi lainnya. Pada peristiwa dengan jumlah korban besar, proses identifikasi dapat melibatkan banyak disiplin ilmu dan berlangsung dalam waktu panjang. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal penting bagi kepemimpinan di lingkungan kedokteran kepolisian.
Sebagai Karodokpol Pusdokkes Polri, Hastry akan berada dalam struktur yang memiliki fungsi penting untuk mendukung pelaksanaan tugas kepolisian dari sisi kedokteran. Pelayanan tersebut dapat mencakup pemeriksaan forensik, identifikasi korban, dukungan terhadap penanganan perkara, hingga kesiapan menghadapi bencana dan kejadian dengan korban massal. Standar kerja yang konsisten dibutuhkan karena hasil pemeriksaan dapat digunakan dalam proses penegakan hukum. Koordinasi dengan jajaran kedokteran kepolisian di berbagai daerah juga menjadi bagian penting agar pelayanan memiliki kualitas yang seragam. Penguatan kemampuan personel menjadi kebutuhan seiring perkembangan teknologi dan kompleksitas kasus.
Perkembangan ilmu forensik membuka semakin banyak kemungkinan penggunaan teknologi untuk membantu pengungkapan suatu peristiwa. Pemeriksaan DNA, analisis medis, sistem identifikasi digital, serta pengelolaan database dapat meningkatkan kecepatan dan ketepatan proses. Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan prosedur yang ketat untuk menjaga kualitas dan integritas hasil pemeriksaan. Setiap sampel dan temuan harus dikelola dengan baik sejak pengambilan hingga analisis. Kesalahan dalam prosedur dapat memengaruhi nilai bukti ketika digunakan dalam proses hukum.
Kepemimpinan di bidang kedokteran kepolisian juga menghadapi tantangan ketika terjadi bencana besar. Indonesia memiliki risiko gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, kecelakaan transportasi, dan berbagai peristiwa lain yang dapat menimbulkan korban dalam jumlah banyak. Dalam kondisi tersebut, tim Disaster Victim Identification memiliki tugas penting memastikan identitas korban secara ilmiah. Proses identifikasi bukan hanya kebutuhan administrasi, tetapi juga memberikan kepastian kepada keluarga. Kesiapan personel, peralatan, laboratorium, dan koordinasi menjadi faktor yang menentukan kecepatan penanganan.
Penunjukan Hastry turut menjadi gambaran semakin terbukanya ruang kepemimpinan bagi polwan di lingkungan Polri. Posisi strategis dapat ditempati berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan kebutuhan organisasi tanpa terbatas pada bidang tugas tertentu. Kehadiran perempuan dalam jajaran pimpinan juga dapat memperkaya perspektif organisasi dalam menjalankan pelayanan kepada masyarakat. Bagi polwan yang sedang membangun karier, perjalanan Hastry dapat menunjukkan bahwa spesialisasi profesional dapat menjadi jalur menuju posisi kepemimpinan. Pengembangan kompetensi tetap menjadi faktor utama dalam menghadapi tuntutan tugas yang semakin kompleks.
Penunjukan Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti sebagai Karodokpol Pusdokkes Polri menempatkan salah satu ahli forensik berpengalaman pada posisi penting dalam sistem kedokteran kepolisian. Tantangan berikutnya adalah memperkuat kualitas pemeriksaan, kemampuan identifikasi, kesiapan menghadapi bencana, serta pemanfaatan teknologi forensik di seluruh jajaran. Kedokteran kepolisian memiliki peran yang mungkin tidak selalu terlihat langsung oleh masyarakat, tetapi hasil kerjanya dapat menentukan kejelasan sebuah perkara dan kepastian identitas korban. Pengalaman Hastry dalam berbagai penugasan menjadi modal untuk mendorong penguatan layanan tersebut. Dengan kepemimpinan yang berbasis keahlian dan standar ilmiah, fungsi kedokteran kepolisian diharapkan semakin mampu mendukung penegakan hukum sekaligus pelayanan kemanusiaan.




