Jakarta, 15 September 2026 – Pembangunan sejumlah proyek LRT City yang sebelumnya mengalami keterlambatan dipastikan akan dilanjutkan sebagai bagian dari penyelesaian kewajiban kepada konsumen. Pemerintah bersama PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Adhi Commuter Properti Tbk tengah menyiapkan skema untuk memastikan proyek yang belum selesai dapat kembali berjalan. Penyelesaian unit yang telah dibeli masyarakat menjadi salah satu prioritas utama dalam proses tersebut. Langkah ini diambil setelah ribuan konsumen masih menunggu serah terima hunian yang sebelumnya dipasarkan dengan konsep kawasan berorientasi transit. Kondisi keuangan pengembang dan kebutuhan pendanaan konstruksi kini sedang dipetakan agar pembangunan dapat dilakukan berdasarkan jadwal yang realistis. Pemerintah juga meminta setiap solusi memberikan kepastian kepada konsumen dan tidak kembali menimbulkan keterlambatan berkepanjangan.
LRT City dikembangkan sebagai kawasan hunian yang terintegrasi dengan jaringan transportasi massal, terutama layanan kereta ringan dan moda transportasi publik lainnya. Konsep tersebut dirancang untuk mempermudah mobilitas masyarakat dengan mendekatkan tempat tinggal terhadap simpul transportasi. Pengembangan kawasan berorientasi transit juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi di wilayah perkotaan. Namun, perjalanan sejumlah proyek LRT City menghadapi persoalan setelah kondisi pasar properti dan kemampuan keuangan pengembang mengalami tekanan. Penjualan yang tidak sesuai target turut memengaruhi arus kas yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konstruksi. Akibatnya, sejumlah konsumen harus menunggu lebih lama untuk memperoleh unit yang telah mereka beli.
Berdasarkan pemetaan perusahaan, sekitar 5.400 unit LRT City telah terjual kepada konsumen. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 unit telah berhasil diserahterimakan, sedangkan kurang lebih 2.400 unit masih membutuhkan penyelesaian. Kondisi setiap proyek berbeda sehingga perusahaan tidak dapat menggunakan satu skema yang sama untuk seluruh kawasan. Sebagian pembangunan membutuhkan tambahan pekerjaan konstruksi, sementara proyek lainnya menghadapi persoalan pembiayaan dan kewajiban yang harus terlebih dahulu diselesaikan. Pemerintah meminta kondisi masing-masing proyek diperiksa secara rinci sebelum dana tambahan diberikan. Langkah tersebut dilakukan agar setiap rupiah yang digunakan benar-benar menghasilkan kemajuan pembangunan.
Adhi Karya sebagai induk usaha menyatakan akan ikut mengawal penyelesaian persoalan yang terjadi pada anak usahanya, Adhi Commuter Properti. Manajemen sebelumnya menjelaskan bahwa tekanan terhadap proyek mulai muncul ketika pasar properti melemah dan kemudian semakin berat saat pandemi memengaruhi aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut membuat penjualan tidak mampu menghasilkan arus kas sesuai perencanaan awal. Padahal, pembangunan properti membutuhkan kesinambungan pendanaan agar pekerjaan konstruksi dapat berlangsung tanpa jeda panjang. Ketika penerimaan mengalami penurunan, kemampuan menyelesaikan proyek ikut terdampak. Persoalan tersebut kini menjadi salah satu fokus dalam proses restrukturisasi dan penyehatan perusahaan.
Dukungan pendanaan menjadi bagian penting dalam rencana melanjutkan pembangunan. Dana sekitar Rp456 miliar telah masuk dalam pembahasan untuk membantu penyelesaian sejumlah kewajiban dan proyek yang membutuhkan tambahan modal. Namun, penggunaan dana tersebut harus berdasarkan hasil uji tuntas terhadap kondisi keuangan dan konstruksi. Pemerintah tidak ingin tambahan pendanaan hanya memberikan solusi sementara tanpa memastikan proyek dapat mencapai tahap serah terima. Perusahaan karena itu harus menghitung kebutuhan biaya sampai pembangunan benar-benar selesai. Jadwal penggunaan dana dan perkembangan konstruksi juga perlu dipantau secara berkala.
Danantara bersama pihak terkait turut melakukan kajian terhadap proyek-proyek yang berada dalam pengembangan Adhi Commuter Properti. Uji tuntas dilakukan untuk mengetahui posisi aset, kewajiban, kebutuhan pendanaan, dan kemampuan setiap proyek menghasilkan arus kas. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan proyek yang dapat segera dilanjutkan dan bentuk restrukturisasi yang diperlukan. Pemerintah juga ingin memastikan tambahan dukungan tidak memperbesar persoalan keuangan pada masa mendatang. Penyelesaian kewajiban kepada konsumen harus berjalan bersamaan dengan perbaikan tata kelola perusahaan. Dengan demikian, pembangunan dapat kembali berjalan menggunakan struktur keuangan yang lebih sehat.
Selain melanjutkan pembangunan, opsi pengembalian dana kepada konsumen tetap menjadi bagian dari alternatif penyelesaian untuk kondisi tertentu. Pilihan tersebut dapat digunakan apabila penyelesaian unit menghadapi hambatan yang membuat pembangunan tidak memungkinkan dilakukan sesuai skema yang direncanakan. Namun, mekanisme pengembalian dana harus mempertimbangkan kemampuan perusahaan dan hak konsumen berdasarkan perjanjian. Konsumen juga perlu memperoleh informasi mengenai pilihan yang tersedia sebelum keputusan dibuat. Pemerintah menekankan bahwa penyelesaian harus memberikan kepastian, terutama kepada masyarakat yang membeli unit sebagai tempat tinggal. Aspirasi konsumen menjadi salah satu dasar dalam menentukan skema akhir.
Pemerintah sebelumnya menetapkan target agar mekanisme penyelesaian persoalan LRT City dapat difinalisasi paling lambat 15 Oktober 2026. Tenggat tersebut memberikan waktu bagi perusahaan dan pihak terkait untuk menyelesaikan pemetaan serta menyusun rencana pembangunan yang dapat dilaksanakan. Setiap proyek diharapkan memiliki jadwal, kebutuhan dana, serta target penyelesaian yang lebih jelas. Konsumen juga membutuhkan perkembangan yang dapat dipantau agar mengetahui kapan unit mereka berpotensi diserahterimakan. Transparansi menjadi penting setelah sebagian pembeli menunggu dalam waktu cukup panjang. Pemerintah akan menggunakan periode tersebut untuk memastikan solusi tidak hanya berhenti pada kesepakatan administratif.
Kelanjutan pembangunan juga penting bagi kepercayaan terhadap konsep transit-oriented development yang menjadi bagian dari pengembangan perkotaan. Integrasi hunian dengan transportasi massal tetap memiliki potensi besar di kawasan metropolitan dengan tingkat mobilitas tinggi. Namun, keberhasilan konsep tersebut sangat bergantung pada kepastian pembangunan dan kemampuan pengembang memenuhi komitmen kepada pembeli. Keterlambatan proyek dapat membuat masyarakat lebih berhati-hati terhadap produk properti yang dipasarkan sebelum konstruksi selesai. Penyelesaian LRT City karena itu memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar menyelesaikan bangunan. Keberhasilan penanganannya dapat membantu memulihkan kepercayaan konsumen terhadap proyek properti yang dikembangkan perusahaan BUMN.
Kepastian bahwa pembangunan LRT City akan dilanjutkan menjadi langkah penting dalam penyelesaian persoalan yang selama ini dihadapi ribuan konsumen. Fokus berikutnya adalah memastikan rencana tersebut memiliki pendanaan, jadwal konstruksi, dan mekanisme pengawasan yang jelas. Adhi Karya dan Adhi Commuter Properti harus menunjukkan kemajuan nyata terhadap sekitar 2.400 unit yang masih menunggu penyelesaian. Pemerintah bersama Danantara dan BP BUMN juga perlu memastikan restrukturisasi perusahaan berjalan tanpa mengabaikan kepentingan pembeli. Target penyelesaian mekanisme pada 15 Oktober 2026 menjadi batas penting untuk memberikan kepastian mengenai langkah yang akan ditempuh. Dengan pembangunan yang kembali berjalan secara terukur, konsumen diharapkan akhirnya dapat memperoleh unit yang telah mereka nantikan.





