Jakarta, 20 September 2026 – Tiga perwira militer Korea Selatan mengalami luka akibat ledakan ketika menjalankan operasi pencarian di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara. Ledakan terjadi di sektor barat DMZ, tepatnya di sebelah selatan Garis Demarkasi Militer (MDL). Militer Korea Selatan belum memastikan penyebab ledakan tersebut, tetapi dugaan sementara mengarah pada ranjau darat. Dua perwira yang terluka langsung dievakuasi menggunakan helikopter darurat menuju rumah sakit militer. Seorang perwira lainnya juga dievakuasi untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui jenis bahan peledak serta asal perangkat yang memicu insiden.
Ketiga perwira diketahui sedang menjalankan operasi di wilayah yang berada di bawah pengawasan Divisi Infanteri ke-25 Angkatan Darat Korea Selatan. Ledakan terjadi ketika personel melakukan kegiatan pencarian dan pemeriksaan jalur di kawasan DMZ. Area tersebut dikenal memiliki tingkat risiko tinggi karena terdapat banyak ranjau yang dipasang selama maupun setelah Perang Korea. Tim militer segera menghentikan aktivitas di sekitar titik ledakan untuk menghindari kemungkinan adanya perangkat lain. Lokasi kemudian diamankan sebelum pemeriksaan lebih mendalam dilakukan. Kondisi para korban terus dipantau setelah mereka mendapatkan penanganan medis.
Salah satu kemungkinan yang sedang diperiksa adalah ledakan berasal dari ranjau yang sebelumnya sudah berada di sekitar jalur operasi. Militer juga menyelidiki kemungkinan ranjau dari wilayah Korea Utara berpindah akibat hujan deras yang melanda kawasan perbatasan. Pergerakan tanah dan aliran air dapat menyebabkan perangkat peledak bergeser dari lokasi awalnya. Namun, belum dapat dipastikan apakah ranjau tersebut berasal dari Korea Utara atau merupakan bagian dari perangkat lama di wilayah Korea Selatan. Otoritas militer menegaskan penyebab pasti baru dapat ditentukan setelah penyelidikan selesai. Karena itu, kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab belum dapat dibuat.
DMZ membentang sekitar 248 kilometer dengan lebar kurang lebih empat kilometer dan menjadi salah satu kawasan perbatasan dengan penjagaan paling ketat di dunia. Wilayah tersebut dipenuhi pagar kawat berduri, penghalang antitank, pos militer serta sejumlah besar ranjau darat. Zona itu terbentuk setelah Perang Korea 1950–1953 berakhir melalui kesepakatan gencatan senjata dan bukan perjanjian damai. Kondisi tersebut membuat Korea Selatan dan Korea Utara secara teknis masih berada dalam situasi konflik yang belum diselesaikan melalui perdamaian formal. Insiden ranjau beberapa kali terjadi di kawasan perbatasan dan menimbulkan korban dari kalangan militer maupun warga sipil. Aktivitas pasukan di dalam DMZ karena itu dijalankan dengan prosedur keamanan yang ketat.
Situasi perbatasan semakin mendapat perhatian setelah Korea Utara memperkuat sejumlah fasilitas pertahanannya dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas tersebut mencakup pemasangan ranjau tambahan, pembangunan penghalang antitank dan penguatan pagar di sekitar garis pemisah. Militer Korea Selatan sebelumnya juga mendeteksi perubahan kondisi tanah di sejumlah area yang berada di sebelah selatan DMZ. Perubahan tersebut telah dibahas dengan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa karena muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan keberadaan ranjau di lokasi yang sebelumnya dianggap aman. Insiden terbaru membuat pemeriksaan terhadap jalur operasi diperkirakan semakin diperketat. Keselamatan personel menjadi prioritas sebelum kegiatan militer kembali dilanjutkan di titik terdampak.
Ledakan tersebut menjadi salah satu insiden terbaru di DMZ ketika hubungan Seoul dan Pyongyang masih berada dalam ketegangan tinggi. Meski dugaan ranjau menguat, pemerintah Korea Selatan belum menyimpulkan bahwa kejadian tersebut merupakan tindakan yang disengaja oleh Korea Utara. Penyelidikan teknis diperlukan untuk menentukan usia, jenis dan kemungkinan asal perangkat yang meledak. Militer juga akan memeriksa kondisi medan untuk mengetahui apakah hujan dan perubahan tanah berperan dalam insiden tersebut. Pengawasan di kawasan perbatasan tetap dilakukan sambil menunggu hasil investigasi. Perkembangan penyelidikan selanjutnya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah keamanan tambahan di sepanjang DMZ.







