Pada Juli 2025, Indonesia dan Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan tarif dagang bersejarah: ekspor Indonesia ke AS dikenakan tarif 19%, sementara impor dari AS ke Indonesia dibebaskan dari tarif. Kesepakatan ini membuka pasar Indonesia bagi produk-produk AS, termasuk energi dan pangan. Namun, langkah ini juga membawa tantangan besar bagi sektor domestik.Antara News+2News+2Jawa Pos+2
💡 Obat Inflasi: Impor Energi Murah dari AS
Salah satu poin utama kesepakatan adalah komitmen Indonesia untuk membeli energi senilai USD 15 miliar dari AS. Langkah ini bertujuan untuk menurunkan biaya energi domestik dan mengurangi tekanan inflasi. Harga energi yang lebih rendah dapat membantu menstabilkan harga barang dan jasa, serta meningkatkan daya beli masyarakat.Antara News+2News+2Jawa Pos+2
Namun, pembelian energi dalam jumlah besar juga berisiko meningkatkan defisit neraca perdagangan Indonesia. Jika tidak diimbangi dengan peningkatan ekspor, hal ini dapat melemahkan nilai tukar rupiah dan memicu inflasi impor.digivestasi.com+4Jawa Pos+4News+4Indef+2Antara News+2maksi.binus.ac.id+2
🥬 Beban Tarif: Tekanan pada Sektor Pangan dan Pertanian
Meskipun impor pangan dari AS bebas tarif, sektor pertanian domestik menghadapi tantangan berat. Produk pertanian AS yang lebih murah dapat menekan harga pangan lokal, merugikan petani, dan meningkatkan ketergantungan pada impor. Selain itu, pembelian produk pertanian senilai USD 4,5 miliar dari AS dapat memperburuk defisit neraca perdagangan dan menambah beban devisa.Jawa Pos+1News+1
Ketergantungan pada impor pangan strategis seperti gandum dan kedelai membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global dan kebijakan perdagangan negara lain. Kebijakan liberalisasi pangan tanpa proteksi yang memadai dapat mengancam ketahanan pangan nasional.Indef
⚠️ Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah
Kesepakatan ini dapat memperburuk tekanan inflasi domestik. Pelemahan rupiah akibat defisit neraca perdagangan dapat meningkatkan biaya impor barang lain, seperti bahan baku industri dan barang konsumsi, yang pada gilirannya mendorong inflasi.maksi.binus.ac.idNews+3digivestasi.com+3Indef+3
Meskipun harga energi dan pangan global cenderung menurun, depresiasi rupiah tetap menjadi faktor risiko inflasi yang signifikan. Keterbukaan pasar tanpa mitigasi yang tepat dapat memperbesar volatilitas harga di tingkat konsumen.Indef
🔄 Kesimpulan: Antara Peluang dan Tantangan
Kesepakatan tarif AS–RI membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakses energi dan pangan dengan harga lebih murah. Namun, langkah ini juga membawa tantangan besar bagi sektor domestik, terutama dalam menjaga daya saing produk lokal dan stabilitas ekonomi.
Pemerintah perlu mengimplementasikan kebijakan yang seimbang, seperti meningkatkan produktivitas sektor pertanian, memperkuat proteksi sosial, dan mendiversifikasi mitra dagang, untuk memitigasi dampak negatif dari kesepakatan ini.