Bogor, 6 September 2026 – Sebanyak 56 santri terdampak kebakaran yang melanda Pondok Pesantren Al Falakiyah Pagentongan di Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Sabtu sore. Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan sebagian besar santri mengalami sesak napas setelah menghirup asap pekat ketika berusaha membantu memadamkan api. Asap tersebut berasal dari material yang terbakar, termasuk kasur busa berbahan spons yang menghasilkan kepulan cukup tebal. Para santri kemudian mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Dari keseluruhan korban terdampak, sebanyak 31 santri menjalani perawatan di Rumah Sakit PMI Bogor. Pemerintah Kota Bogor memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan sampai kondisinya pulih.
Dedie menjelaskan para santri berada cukup dekat dengan lokasi kebakaran karena secara spontan berusaha membantu memadamkan api sebelum kondisi sepenuhnya terkendali. Banyaknya material busa yang terbakar membuat asap dengan cepat memenuhi bagian bangunan dan lingkungan sekitarnya. Paparan asap dalam waktu tertentu kemudian menimbulkan gangguan pernapasan pada sebagian besar santri. Selain sesak napas, lima dari 31 santri yang dirawat di RS PMI Bogor mengalami luka bakar ringan pada bagian jari. Korban lainnya mendapatkan penanganan medis dan observasi sesuai kondisi masing-masing. Hingga perkembangan terakhir, tidak terdapat laporan korban meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.
Selain RS PMI Bogor, korban juga mendapatkan penanganan di RS Hermina, RS UMMI, RSUD Kota Bogor, serta sejumlah puskesmas. Sebagian santri yang kondisinya lebih ringan turut mendapatkan penanganan di lingkungan pondok pesantren. Tenaga medis memprioritaskan pemulihan fungsi pernapasan karena keluhan utama yang muncul berkaitan dengan paparan asap. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak terdapat gangguan lanjutan akibat terlalu banyak menghirup hasil pembakaran kasur busa dan material lainnya. Santri dengan luka bakar juga memperoleh perawatan sesuai tingkat keparahannya. Pemerintah daerah terus memantau kondisi mereka hingga dinilai cukup aman untuk kembali menjalani aktivitas.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 16.40 WIB pada Sabtu, 5 September 2026, di salah satu bagian bangunan Pondok Pesantren Al Falakiyah Pagentongan. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor menerima laporan sekitar pukul 16.45 WIB dan segera mengerahkan personel dari Pos Yasmin, Cibuluh, serta Sukasari. Petugas mulai bergerak satu menit setelah laporan diterima dan tiba di lokasi sekitar pukul 16.56 WIB. Proses pemadaman dilakukan menggunakan perlengkapan keselamatan lengkap karena terdapat material yang menghasilkan asap pekat. Api berhasil dikendalikan dalam waktu relatif cepat sebelum menjalar lebih luas ke bagian bangunan lainnya. Setelah api padam, petugas melanjutkan proses pendinginan untuk memastikan tidak terdapat titik panas yang dapat memicu kebakaran kembali.
Berdasarkan informasi awal yang diperoleh petugas di lokasi, kebakaran diduga bermula dari aktivitas bermain api yang kemudian mengenai material mudah terbakar. Api membesar dan upaya pemadaman awal tidak berhasil menghentikan kobaran. Kasur busa yang tersimpan di lokasi kemudian ikut terbakar sehingga menghasilkan asap hitam pekat. Material spons mempunyai karakter mudah terbakar dan dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar ketika terkena api. Penyebab pasti kejadian tetap menjadi bagian yang perlu dipastikan berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut. Pemerintah daerah juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di lingkungan dengan banyak material mudah terbakar.
Dedie yang menjenguk langsung para santri di RS PMI Bogor memastikan penanganan kesehatan menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Pemkot Bogor juga menjamin biaya pengobatan korban yang tidak dapat ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Kebijakan tersebut diambil agar persoalan pembiayaan tidak menghambat proses pemeriksaan maupun pemulihan para santri. Menurut Dedie, hal terpenting setelah kebakaran adalah memastikan seluruh anak memperoleh penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Pemerintah juga berkoordinasi dengan pengelola pesantren dan fasilitas kesehatan yang menangani korban. Pemantauan akan dilanjutkan sampai seluruh santri dinyatakan pulih.
Dedie turut mengapresiasi rasa kepedulian para santri yang berinisiatif membantu ketika melihat kebakaran terjadi di lingkungan tempat mereka tinggal dan belajar. Namun, kejadian tersebut sekaligus menjadi evaluasi mengenai pentingnya prosedur keselamatan dalam menghadapi kebakaran. Anak-anak sebaiknya segera menjauh dari sumber api dan menyerahkan proses pemadaman kepada petugas yang mempunyai peralatan serta pelatihan khusus apabila kebakaran sudah membesar. Asap dari berbagai material dapat menjadi ancaman serius meskipun seseorang tidak mengalami kontak langsung dengan api. Paparan asap pekat dapat menyebabkan gangguan pernapasan dalam waktu relatif singkat. Prosedur evakuasi dan pemahaman mengenai titik kumpul karena itu menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan dan pesantren.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor memperkirakan kerugian material akibat kebakaran mencapai sekitar Rp50 juta. Namun, api berhasil dicegah agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar dan menghanguskan bagian pesantren lainnya. Respons cepat petugas menjadi faktor penting dalam membatasi area terdampak. Setelah pemadaman selesai, kondisi lokasi dinyatakan terkendali dan tidak ditemukan korban jiwa. Petugas tetap melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada bara maupun sumber panas tersembunyi di antara material yang terbakar. Evaluasi terhadap kondisi bangunan juga diperlukan sebelum bagian yang terdampak kembali digunakan.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi pengelola lembaga pendidikan berasrama untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kebakaran. Bangunan yang digunakan banyak penghuni membutuhkan jalur evakuasi yang jelas, alat pemadam api ringan, akses kendaraan pemadam, serta prosedur tanggap darurat yang dipahami seluruh penghuni. Material seperti kasur busa, kain, kayu, dan perlengkapan lainnya juga perlu disimpan dengan memperhatikan risiko kebakaran. Simulasi evakuasi secara berkala dapat membantu penghuni mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Pengawasan terhadap aktivitas yang menggunakan api juga perlu diperketat, terutama di lingkungan yang dihuni anak-anak. Langkah pencegahan menjadi penting agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan banyak korban akibat paparan asap.
Pemkot Bogor kini memusatkan perhatian pada pemulihan 56 santri yang terdampak kebakaran tersebut, terutama mereka yang mengalami gangguan pernapasan. Santri yang masih membutuhkan observasi akan tetap mendapatkan perawatan sampai tenaga medis menyatakan kondisinya stabil. Lima santri yang mengalami luka bakar ringan juga terus dipantau selama proses penyembuhan. Pemerintah memastikan biaya pengobatan yang tidak tercakup BPJS akan ditanggung sehingga seluruh korban memperoleh layanan yang diperlukan. Di sisi lain, kejadian di Al Falakiyah akan menjadi bahan evaluasi terhadap kesiapsiagaan kebakaran di lingkungan pendidikan berasrama. Pemerintah berharap seluruh santri dapat segera pulih dan kegiatan pesantren dapat kembali berjalan setelah aspek keamanan bangunan dipastikan memadai.





